MTA : Setahu Saya (1)

Tulisan ini adalah opini pribadi dari seorang peserta pengajian Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA).

Sore hari saat aku melintas di depan Jl. Garuda di salah satu dusun di pojok  utara Kecamatan Kasihan…
Sesaat terlihat asing bagiku suatu spanduk….
“ MTA ….. opo kuii .. ?? 
ohh … Majelis Tafsir Al-Qur’an…. “
wahhh.. mantep tenan jenenge…
Terbersit lagi beberapa pertanyaan dalam benak ku
“ … Bagaimana caranya mempelajari tafsir al-qur’an ?
Apa yang bisa dipelajari dari tafsir al-qur’an?
kita juga kan … bisa mempelajari sendiri al-Qur’an dirumah?
Apa istimewanya majelis pengajian iniii ….. ? “
Jangan-jangan, ini aliran sesat yang akhir-akhir gencar di promosikan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Namun masih bisik hati saya di sudut yang lain.. Oh, ternyata tidak juga..“

Sejenak tertangkap oleh penglihatan ku ..
“ waktu pelaksanaan pengajian ini diadakan pada hari selasa jam 4 sore...
Hmm.. hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.. aku harus datang ke pengajian ini ….



SELASA SORE. PUKUL 16 WIB

MTA yang saya lihat pertama dan setahu saya adalah pengajian tanpa sarung. Tidak banyak para anak Adam yang memakai tudung kepala atawa pecis — baik yang putih  layaknya orang baru pulang haji dan tidak juga kopyah hitam yang sering dipakai tahlilan. Pecis putih dan kopyah hitam, dua simbol kesalehan, dalam kasus tertentu mungkin hanya tepat dipakai oleh seorang ustadz TPA atau rais atau kaum pada acara hajatan tahlilan, misalnya. Tapi kedua tutup kepala tersebut plus sarung bukan sebuah kewajiban dan tidak juga diharamkan untuk dipakai di sebuah majlis taklim bernama MTA.

MTA setahu saya adalah forum pengajian yang terasa aneh bagi saya yang awam ini. Sama anehnya ketika agama anak yatim bernama Muhammad ini hadir di sudut kampung di kota Makkah.
Aneh?
Karena setiap hadir, satu per satu, nama jamaah dipanggil untuk diabsen (di MTA sebutan jamaah lebih sering disebut dengan warga). Kok seperti anak sekolah ya, pikir saya dalam hati. Budi! Ada. Yono, tidak ada, karena sakit. Iwan, izin. Sekilas, ada aroma indoktrinasi..
Ah..ternyata tidak. Inilah metode untuk menjaga tingkat kedisiplinan dan keistiqomahan warga MTA agar kondisi keimanan mereka tetap pada frekuensi yang stabil.

MTA setahu saya adalah pengajian tanpa ada ‘kitab kuning’ dengan ketebalan dan keangkeran huruf-huruf arab telanjang bulat tanpa harokat di sana. Kemudian dikerangkeng dalam keangkuhan tembok dengan ketebalan tertentu bernama pesantren. Kitab kuning yang ada di MTA ternyata bernama brosur, selebaran berisi kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist sahih Bukhori-Muslim yang disusun secara sistematis. Disamping brosur, hal terpenting yang harus dibawa adalah seperangkat alat tulis: pulpen dan buku tulis beserta Al-Qur’an terjemahan yang disatukan dalam sebuah tas sederhana dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ketiga instrument ini umumnya telah lusuh karena kebanyakan dipakai. Bagi yang tidak biasa, pemandangan ini terasa ganjil. Sepintas, mereka (warga MTA) ini, seperti petugas debt collector kelas kampung, yang nagih uta ng kepada para ibu di gang-gang sempit di pojok sebuah kampung. Isi tas debt collector (baca: bank plecit), jelas, berisikan buku tebal dengan daftar nama ibu-ibu yang ditagih hutangnya. Sementara, isi buku tulis yang sama tebalnya di tangan warga MTA berisi daftar urutan surat dan ayat tematik Al-Qur’an lengkap dengan catatan ustadz.

MTA setahu saya adalah sebuah sekolah, sebuah madrasah, atau sebuah pesantren tanpa dinding. Semacam ‘school without wall’. Karena tanpa dinding itulah, saya jadi memahami bahwa di majlis pengajian ini, saya bisa duduk sama rata, juga sama rendah dengan pak polisi, pak guru, pak tani, pak buruh tani, pak pedagang, dengan status sosial yang berbeda.
Tidak seperti sering terlihat di televisi pada acara peringatan hari besar Islam, misalnya, di masjid Istiqlal. Untuk shaf pertama adalah barisan para pejabat tinggi, para elite politik, dan para bangsawan ahli agama. Dengan cara seperti itu, saya bisa merasakan betapa indahnya kehangatan emosional di antara jamaah.

MTA setahu saya adalah sekolah yang tidak ada pernah ada kata lulusnya apalagi ijazah tulisnya, Karena ilmu yang dikaji adalah suatu tuntunan dalam langkah kehidupan yang semestinya harus dipelajari setiap saat selama hayat dikandung badan. Namun setiap pelajaran yang diterima harus semaksimal nya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan koridor dari Al-qur’an dan As-Sunnah. (Kutipan Kajian Ustadz DR. Abdurrahman Suparno, Selasa Sore, 28/12/2010).


12 Responses so far.

  1. Anonim says:

    Wahai Saudaraku MTA, setelah sekian lama saya mengikuti pengajian Jihat Pagi saya belum pernah mendengarkan Ustadz Sukino membaca Al-Qur'an secara lengkap malah yang membacakan orang lain. Setelah saya tanyakan sana-sini ternyata Ustadz membaca Al-Qur'an kurang fasih, dan tidak bisa membaca kitab gundulan. Kalau begitu bagamana Saudaraku

  2. Anonim says:

    emang masalah buat lwo..

  3. Anonim says:

    MTA : Majelis Tai Asu yg mnghllkan daging babi pimpinane sukino

  4. Anonim says:

    "YANG BERHAK MENGHALAL ATAU HARAMKAN SESUATU ITU HANYA ALLAH, JADI BUKAN SAYA LOH...BUKAN MTA..LOH," KATA USTAD A SUKINO.

    LUCU BANGET, LAH WONG SING MENAFSIRKAN AL QURAN SAK ENAK UDELE DEWE YO A. SUKINO ITU KOK YO BILANG BUKAN SAYA,
    KALAU MEMANG DARI ALLAH YANG BENAR-BENAR, MAKA TIDAK AKAN ADA PERBEDAAN ANTARA OTAKNYA A. SUKINO YANG MENAFSIRKAN DENGAN PEMIKIRAN PARA ULAMA SALAF DAHULU YANG MENAFSIRKAN AL QUR'AN.

    KALAU TERJADI PERBEDAAN MAKA MANA YANG SEBAIKNYA DI IKUTI?
    OTAKNYA A. SUKINO YANG MENAFSIRKAN (WALAUPUN TIDAK JELAS, KARENA HANYA MENYEBUTKAN BUNYI AL QURAN ATAU HADISNYA SAJA TANPA PENJELASAN YANG MEMBUAT WARGANYA BINGUNG BIAR NANYA KALO BISA JAWAB BIAR KELIHATAN PINTER OTAKNYA A. SUKINO ITU.

    TAPI SAYA SARANKAN JANGAN KELUAR DARI MTA KARENA NANTI KALO DI ABSEN GA ADA PAS KAJIAN DI BINAAN REPOT NANTI .....DI BOIKOT/DIKUCILKAN. . . DARI WARGA MTA...
    YA KAN? JAWAB KALAU MEMANG SAYA KELIRU..
    KLO SAYA KELIRU MOHON DI LURUSKAN....

  5. Anonim says:

    Banyak radio MTA tidak berijin (radio gelap) tolong aparat ditertipkan khususnya kota Kendal Jateng, Gelombangnya mengganggu radio yg lain (resmi)

  6. Anonim says:

    Ustadznya saja PEA apalagi pengikutnya 100% semakin PEA, kembalilah Saudaraku keajaran yg benar

  7. kok pada sinis gitu seh yg comment...
    anggotanya aja pada enjoy n nyaman kok ngejalaninya...
    knp kalian yg repot :D
    sesekali dengarin dg bener, kl msh bs dgr hal yg baek seh ;)

  8. Anonim says:

    Orang mta cuma belajar mengkaji bukan mengamalkan,katanya mengamalkan quran sunah tp kenyataanya ingkar sunah
    buktinya alquran memerintahkan kita bersolawat kepada nabi, di mta malah katanya bid'ah,
    amalan orang mta ya cuma gak ikut tahlilan, gak ikut bersolawat,itulah org mta

  9. Unknown says:

    Istighfar saja mbak/mas yg belum tau apa MTA secara keseluruhan dan apa saja yg kami sbg warga yg kami lakukan. Karena berbicara tanpa adanya bukti itu dapat dikatakan sebuah fitnah. Terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb

  10. oyeeaahh says:

    AAASSSSSUUUUUUUUUUKINO... PANCEN ASUUUU. SUKINO KEPANJANGAN MANGAN ASU KENO. WONG USTADZ GADUNGAN SING RA CETHO MOCO QURAN RA GABLEG KOK YOH SEDULUR2 ISOH KETIPU. HADEEHHHH

  11. Anonim says:

    Asu kok teriak asu....

  12. Anonim says:

    Sahara Sands Casino Resort | Play at SA's Best Casino
    Play at Sahara Sands Casino Resort with our suite of 카지노 1580+ kadangpintar electronic table games, including Blackjack, Roulette and Craps. septcasino

Leave a Reply