MTA adalah untaian butir-butir tasbih dzikir tablig akbar yang tertib itu adalah komposisi musik intrumentalia, dalam alunan nada tunggal mengagungkan asma Allah, melalui keberasamaan menegakkan dan meluruskan logika aqidah yang benar, ibadah yang lepas dari bid’ah, dan muamalah yang lepas dari sesuatu yang haram, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari walau cemooh, ancaman bahkan boikot dari lingkungan bahkan dari keluarga dekatnya.
MTA setahu saya adalah ketika saya kenal dengan seorang bapak muda bernama Isman. Bapak satu anak ini adalah representasi salah satu wujud militansi warga MTA Cabang Kasihan, Bantul. Dari Pak Isman pula saya bisa ikut merasakan ketika mengamalkan hasil kaji yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah menemui badai dan karang besar yang mengakibatkan dirinya harus berhadapan dengan tokoh masyakarat sekitar seperti layaknya seorang terdakwa suatu kasus korupsi.