MTA Setahu Saya (bag 2)


MTA setahu saya adalah sebuah metode bagaimana saya bisa berinteraksi  dengan rumus-rumus Tuhan bernama Al-Qur’an itu secara lebih intens dan lebih mesra, layaknya mambaca surat cinta dari sang kekasih yang lagi mabuk asmara. Kemudian, saya menjadi lebih faham dan lebih tahu, surat Yasin itu surat ke berapa dan Ayat Kursi itu ada pada surat apa. Dua hal tadi — surat Yasin dan ayat Kursi — di kalangan tertentu adalah sesuatu yang wajib dibaca pada malam Jum’at — mau Wage, Pon, Kliwon, Legi, dan Pahing, monggo… silakan.

MTA setahu saya adalah saya menjadi lebih cerdas dan lebih kaya secara spiritual. Sekarang ini, di tengah lingkungan sosial –ekonomi dan politik maupun kebudayaan yang sudah serba kapitalistik, di mana orang hanya mau berbuat sesuatu hanya kalau ada janji keuntungan materi. Ternyata masih bisa saya temukan begitu banyak orang datang ke majlis ini tidak berjenis kelamin cewek matre, terus ikut arus deras gombal globalisasi. Dari sini saya juga lebih faham bahwa yang membedakan manusia di sisi Tuhannya, ternyata hanya taqwanya (QS: 49:13). Bukan pangkat dan jabatannya, mobilnya, rumahnya, hapenya, dan lain-lainnya. Definisi taqwa disini akan lebih konsisten dan aplikatif kalau mau menerjemahkan ke dalam LIMA-I (5-I). I pertama: Ilmu, I kedua: Ikhlas, I ketiga: Istiqomah, I keempat Intensif, dan I terakhir Implementasi. LIMA-I tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

MTA setahu saya adalah ketika saya bersama lautan manusia yang memadati Gelora Olah Raga (GOR) Kabupaten Sragen, 15 Februari 2011 yang lalu. Langit terlihat mendung, bergulung-gulung, laksana burung-burung Ababil, memayungi tiga puluh ribuan jamaah dari berbagai macam kelas sosial-ekonomi yang berbeda, saat Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukino naik mimbar untuk meyampaikan tausyiah. Gulungan itu seolah tangan-tangan raksasa yang memberi kehangatan dan kenyamanan atas berlangsungnya sebuah acara yang menggetarkan itu. Itulah invisible hand yang tak lain adalah nusratullah, pertolongan Allah. Sebuah bentuk intervensi Allah Azza wa Jalla dengan curahan dan cucuran rahmat dan hidayah-Nya atas dengungan lebah-lebah bernama komunitas atau warga Majlis Tafsir Al-Quran (MTA).
MTA setahu saya adalah ketika saya bersama lautan manusia yang memadati Gelora Olah Raga (GOR) Kabupaten Sragen, 15 Februari 2011, yang lalu. Pada acara detik-detik peresmian 13 cabang MTA di Kabupaten Sragen itu tak ada qiro’ah layaknya lomba MTQ dengan suara syahdu mendayu-dayu. Tak ada sari tilawah dengan ucapan dan intonasi bak pembacaan sajak-sajak WS Rendra.Tak ada bibir terucap sembari berpuja-puji tahlil. Tak ada gemuruh suara yel-yel ‘Hidup MTA’, ‘Hidup Ustadz Ahmad Sukino’, tak juga ada tepuk tangan membahana. Tak ada asap rokok. Juga tak ada adegan dramatis cium tangan.

MTA setahu saya pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah atmosfer yang demikian menyejukkan dan menyentuh hati. Sesuatu yang lain dari biasanya. Sesuatu yang sering terjadi sebagaimana jamaknya tablig akbar yang digelar di mana pun di seantero jagat Republik ini, selalu menunjukkan sebaliknya. Terkadang rusuh dan amburadul.

MTA setahu saya pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah sebentuk aktualisasi diri dari pitutur Jawa “Sepi ing pamrih rame ing gawe”. Suasana itu betul-betul senyap. Sepi nyenyet. Bersih dari hiruk pikuk. Duduk mereka tertib. Tetap duduk tidak beranjak dari duduknya sebelum acara betul-betul usai. Sekali lagi tidak ada puntung rokok berceceran di sana-sini. Karena memang, betul-betul tidak ada kepulan asap rokok.

MTA setahu saya pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah saya tidak melihat ada pasukan khusus, semacam pasukan elit Navy SEALs-nya Amerika Serikat yang telah menewaskan gembong teroris, Osama bin Laden. Atau semacam pasukan berani mati dengan ciri-ciri kebal senjata tajam. Yang dimiliki MTA hanyalah satuan tugas (SATGAS), yang pada wajah satgas itu, sama sekali tidak menunjukkan wajah sebagaimana wajah satgas sebenarnya. Serem dan menakutkan. Tapi wajah itu mirip wajah seorang bapak yang ngemong putra-putrinya. Tampang yang tak menggertak itu wajah damai, ramah, dan murah senyum. Sama sekali tidak menunjukkan wajah keangkeran seorang bodyguard. Sekali lagi: tidak ada pasukan berani mati di MTA, yang ada justru pasukan berani hidup.
MTA setahu saya adalah atmosfer yang damai, yang tak lain adalah refleksi dari makna sejati dari majlis dzikir yang sebenar-benar majlis dzikir. Tidak merokok adalah dzikir itu sendiri. Tidak beranjak dari duduknya sebelum acara usai adalah dzikir itu sendiri. Tidak membuang sampah adalah dzikir sebenar-benar dzikir. Tampang para satgas yang tak menggertak itu wajah damai, ramah, dan murah senyum adalah juga untaian tasbih dzikir.Dan tablig akbar itu adalah dzikir itu sendiri dalam arti yang sebenarnya.


                                                                                                            Bersambung ……

Leave a Reply