Gedung Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu berdiri gagah dan angkuh. Keangkuhan dan kegagahan gedung dengan daya tampung 10 ribu-an lebih pengunjung ini, bisa terlihat sangat jelas pada beberapa batang pilar-pilar raksasa yang menghunjam ke bumi, dengan ketinggian menjulang. Seolah pilar-pilar itu adalah kaki-kaki raksasa yang mengambil sikap seorang pendekar Shaolin dengan formasi pasang kuda-kuda, yang siap mengawal para peserta pengajian (baca: warga MTA) dalam suatu usaha dalam menegakkan dan mengamalkan agama yang sesuai dengan al-qur’an dan As-sunnah. Inilah gedung yang menjadi salah satu saksi seakan-akan bertasbih: “wa tawasaw bil haqqi wa tawasaw bis sabr” (QS-103:3). Dengan tasbih itu, mampu mengguncang dunia dengan cara yang sudah dipakemkan Sang Kholik: “Wa qul jaa al haqqu wa zahaqal baatati(lu) innal baatila kaana zahuuqa(n)” (QS-17:81). Dengan mantap dan yakin, langkah-langkah kecil nan mungil dari generasi berikutnya, pasti dan pasti, akan banyak yang mengikutinya untuk dijadikan panutan bagi generasi berikutnya (next generation). Dan begitu seterusnya
Inilah generasi yang akan digadang-gadang menggantikan generasi Gayus-iana (tokoh paling licik dan licin pada awal abad 21 ini). Sebuah generasi yang pada hari-hari ini telah mencoreng wajah ibu pertiwi menjadi bopeng-bopeng.
Proses persalinan peresmian 6 perwakilan dan cabang itu tidak hanya disaksikan 30 ribuan jamaah atau warga. Tapi disaksikan juga oleh sejumlah tokoh yang punya kompetensi dan profesionalitas dalam membidani kelahiran generasi penyelamatan aqidah. Tokoh-tokoh itu adalah KH. Amrullah Ahmad (MUI Pusat), KH. Thoha Abdurrahman (MUI DIY), Prof. Dr. Zeanal Arifin Adanan (MUI Suraktata) dan Ketua Umum MTA Drs. Ahmad Sukino.
Terlihat sebuah fakta bahwa lembaga dakwah ini, ya MTA ini tentunya, memiliki sifat keterbukaan terhadap lembaga dakwah lain tatkala berkaitan dengan lokasi peresmian yang bertempat Yogyakarta (baca: Gedung Sportorium UMY) sebagai tempat kelahiran perwakilan dan cabang-cabang baru MTA. Bukan hanya keterkaitan lokasi atau tempat yang di jadikan persalinan perwakilan atau cabang MTA, bahkan lembaha Dakwah MTA pun pernah mengundang Ketua Pusat Muhammadiyah, Din Syamsudin, ketika peresmian Perwakilan Yogyakarta yang berlokasi di JEC pada beberapa waktu lalu.
Antara MTA dan Muhammadiyah atau dengan gerakan dakwah lainnya adalah suatu gerakan dakwah islam yang bersumber Tuhannya yang sama, Sama Nama Nabinya, sama Kitab Sucinya, dan agama yang sama, terlepas pemahaman yang kadang ditemukan berbeda namun pada dasarnya seorang muslim satu adalah saudara dari muslim yang lain. Layaknya dalam suatu pesta jamuan makan, ketika kita yang meminum kopi, ada saudara kita tidak suka minum kopi, maka kita pun tidak memaksanya untuk minum kopi. Malah menawarkan teh atau bahkan minuman berkarbonasi yang ada di sana.
Saat ditemukan kita sedang asyik menguyah nasi dan tempe goreng saja dan melihat ada saudara kita yang sedang menikmati gado-gadonya, maka hendaknya tidak memaksa kita untuk menyantap gado-gado seperti halnya yang dilakukannya.
Ternyata di atas rencana yang sudah tersusun rapi dengan logika akal sehat manusia, ternyata tidak sejalan dengan akal Maha Sehat milik Allah Subhanallahu Wa Ta’ala,
Bagaimana proses persalinan MTA Cabang Kasihan ....
Bagaimana proses persalinan MTA Cabang Kasihan ....


dakwah islam yg dilaksanakan oleh majelis tafsir alqur'an sebaiknya didukung dan tidak perlu dipermasalahkan. Ego kelompok dan pengikut tidak layak dijadikan argumen untuk saling menyerang apalagi sampai diliat orang kafir. Tentu orang kafir pada ketawa ngeliatnya.